Sabtu, 12 Desember 2015

Homoseksual Potong Kepala? penjara seumur hidup

Dikecam, Gambia Ngotot Penjarakan Kaum Gay Seumur Hidup

Dikecam Gambia Ngotot Penjarakan Kaum Gay Seumur Hidup
Presiden Gambia, Yahya Jammeh, tetap menerapkan hukum penjara seumur hidup bagi kaum gay. | (Istimewa)
Presiden Gambia, Yahya Jammeh, ngotot menerapkan hukuman penjara seumur hidup bagi kaum gay. Dia tidak peduli dengan kecaman kelompok hak asasi manusia yang menentang hukum di Gambia itu.

Amnesty International dan Human Rights Watch mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama, bahwa RUU Anti-Gay di Gambia telah disahkan oleh parlemen pada 25 Agustus 2014. Aturan itu dapat digunakan untuk menargetkan kaum gay yang dianggap "penjahat kambuhan" dan orang yang hidup dengan HIV.

”Presiden Jammeh seharusnya tidak menyetujui tindakan mendalam yang melanggar hukum hak asasi manusia internasional,”kata Stephen Cockburn, Wakil Direktur Regional Amnesty untuk Afrika barat dan tengah.

”Majelis Nasional Gambia dan Presiden seharusnya tidak mendukung homofobia yang disponsori negara,” lanjut dia, seperti dikutip news.com.au, Kamis (11/9/2014).

Jammeh, merupakan mantan perwira militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 1994. Presiden Gambia ini telah berulang kali mengecam homoseksualitas dan pernah bersumpah untuk memenggal kepala gay, meskipun ia kemudian menarik kembali sumpahnya itu.

Tahun lalu, Jammeh mengeluarkan kecaman atas perilaku kaum gay kepada Majelis Umum PBB .”Orang-orang yang mempromosikan homoseksualitas ingin mengakhiri keberadaan manusia,” katanya kala itu. ”Hal ini menjadi epidemi dan kami warga Muslim dan warga Afrika akan berjuang untuk mengakhiri perilaku ini," katanya lagi.


Negaranya Jadi Republik Islam

Presiden Gambia Umumkan Negaranya Jadi Republik Islam
Presiden Yahya Jammeh mengumumkan Gambia jadi Republik Islam. | (Ist)
Presiden Gambia, Yahya Jammeh, mengumumkan negaranya yang sebelumnya sekuler kini menjadi Republik Islam. Presiden Jammeh juga menyatakan negaranya akan bergabung dalam barisan Republik Islam lain seperti Iran dan Afghanistan.

Menurutnya, Gambia tidak bisa mempertahankan identitas negara sekuler warisan rezim kolonial terdahulu yang umumnya ditinggalkan di negara-negara Afrika Barat.

Sejalan dengan identitas agama negara ini dan nilai-nilai, saya menyatakan Gambia sebagai negara Islam,” kata Jammeh di stasiun televisi negara Jumat kemarin. Sebagaimana Muslim mayoritas di negeri ini, Gambia tidak mampu untuk melanjutkan warisan kolonial,” katanya lagi, seperti dikutip Reuters, Sabtu (12/12/2015).


Dari jumlah populasi di Gambia yang mencapai 1,8 juta orang, 95 persennya adalah warga Muslim. Presiden Jammeh mengatakan bahwa warga Gambia dari komunitas agama lain masih bisa beradaptasi.


Jammeh,yang  seorang orator animasi telah mendapatkan reputasi di negaranya setelah berkuasa selama 21 tahun. Dia membuat gebrakan pada tahun 2013 dengan menyatakan Gambia keluar dari Negara Persemakmuran yang dia sebut sebagai neo-kolonial.

Pada tahun 2007, dia pernah mengklaim telah menemukan obat herbal untuk AIDS. Meskipun hubungan komersial dengan Inggris dan negara-negara Eropa lain masih kuat, hubungan Gambia dengan Barat secara politik telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar